Membaca Sirah dengan Alquran, Membaca Alquran dengan Sirah

Miftahur Rahman

Abstract


Kehadiran buku ini menjadi ‘angin segar’ bagi pegiat sejarah kenabian (sirah nabawiyyah) Muhammad SAW sekaligus pegiat ilmu tafsir Alquran. Pasalnya, jika berbicara mengenai sejarah dalam litaratur yang berbahasa Indonesia, akan didapati seperti karya Ibnu Hisyam dan Ibnu Ishaq, dengan sistematika yang
ditebali oleh riwayat-riwayat (baca: hadis). Namun, dalam buku yang ditulis oleh Aksin Wijaya ini adalah sebuah bentuk penjelasan dari sirah yang ditulis oleh Izzat Darwazah dalam karya nya yang berjudul Tafsir al-Hadis. Tafsir al-Hadis adalah sebuah tafsir Alquran yang menggambarkan sirah Nabi Muhammad dengan menggunakan sistematika tartib an-Nuzuli Alquran. Hal ini untuk melacak sejarah Nabi dengan mengikuti alur kronologi turunnya Alquran, yakni dari surat al-Alaq hingga wahyu terakhir turun. Bukan dari sistematika
tartib mushafi, yakni dari al-Fatihah hingga An-Nass. Oleh sebab itu, hal ini juga menarik perbincangan dikalangan para pegiat tafsir Alquran. Sebab mayoritas tafsir Alquran ditulis dengan merujuk pada sistematika tartib mushafi. Aksin Wijaya, tercatat sebagai dosen STAIN Ponorogo dan STAIN Kediri. Lahir di Sumenep, 1 Juli 1974. Studi S2 dan S3 nya ia tempuh di Universitas Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia merupakan dosen dengan segudang karya. Beberapa penghargaan diraihnya seperti juara 2 dalam Thesis Award yang didakan oleh Kemenag RI pada tahun 2006 juga sebagai juara 2 dosen teladan Nasional dalam bidang Islamic Studies yang diadakan oleh Kemenag RI, pada tahun 2015. Ia memiliki 15 karya tulis dalam bentuk buku dan terjemahan, di antaranya ialah Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan: Kritik atas Nalar Tafsir Gender (Yogyakarta: Safiria Insania, 2004), Arah Baru Studi Ulum Alquran: Memburu pesan Tuhan dibalik Fenomena Budaya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), Teori Interpretasi Alquran Ibnu Rusyd: Kritik Ideologis-Hermeneutis (Yogyakarta: LKIS, 2009), Problematika Pemikiran Arab Kontemporer, terjemahan dari Isykaliyat al-Fikr al-Arabi Al-Muasyir karya Muhammad Abid al-Jabiri, filsuf asal Maroko, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015). Sedangkan karya dalam benuk artikel jurnal Ilmiah tercatat sejumlah 31 karya. Mayoritas artikel-artikel tersebut di bidang studi Islam, baik sejarah, hukum, tafsir, Alquran, maupun pemikiran Islam secara umum. Perjalanan hidupnya dengan karya yang melimpah.

Jika dilihat dari reputasi dan kapasitas keilmuannya, maka dalam hal ini, ia merupakan seorang yang kompeten ketika berbicara sejarah wacana dan tafsir Alquran. Buku Sejarah Kenabian: Dalam perspektif Tafsir Nuzuli Muhammad Izzat Darwazah ini ditulis atas dorongan pribadi dengan melihat wacana tafsir Alquran yang berkembang di Indonesia. Terutama dalam segi sistematika penulisan tafsir pada umumnya
ditulis berdasarkan tartib mushafi. Oleh karena itu, Aksin tertarik untuk mengkaji sejarah kenabian dalam tafsir Izzat Darwazah tersebut, yang dirasa unik. Sumber-sumber yang ia gunakan dalam hal ini yakni sumber-sumber primer dan sekunder. Ia merujuk langsung dari karya-karya Izzat darwazah, seperti al-Tafsir al-Hadis, Sirah ar-Rasul: Suwar Muqtabasah min Alquran, ‘Ashr al-Nabi wa Baiatuhu Qabla Bi’tsah, dan lain-lain. Sedangkan mengenai wacana tafsir Nuzuli ia juga merujuk langsung terhadap karya Muhammad Abid al-Jâbiri, Fahm al-Qur’ân: at-Tafsir al-Wadh Hasb Tartib an-Nuzul, Ibnu Qarnas, Ahsan al-Qashshash dan Tarikh Alquran karya Thodore Noldeke.

Jenis buku (kind of book) ini tergolong pada buku tentang sejarah. Sebuah buku ilmiah yang disajikan dengan penuh analisis. Oleh karena itu, buku ini sangat direkomendasikan untuk para peneliti, mahasiswa, maupun dosen pegiat sejarah Islam awal. Dalam pengantar buku ini, dijelaskan bagaimana Aksin mencari karyakarya Izzat darwazah, selama bertahun-tahun, dari Mesir hingga ke Maroko. Rencana awal penelitian ini akan dianalisis secara kritis, namun diubah dengan analisis deskripif. Hal ini disebabkan karena karya-karya Izzat Darwazah termasuk karya-karya yang ditinggalkan, hanya segelintir orang yang menelitinya. Selain itu, karya-karya yang ditulis oleh Izzat Darwazat ditulis oleh menurut Aksin ditulis secara berkaitan dan sistematis. Keterkaitan antara sejarah dan tafsir merupakan titik tolak Aksin untuk menggali lebih dalam karya-karya lebih dalam pemikiran Izzat Dawazah ini.

Al-Tafsir al-Hadis karya Izzat Darwazah ditulis dengan sistematika tartib nuzuli, tentu saja sistematika ini bisa menimbulkan kontroversi. Pasalnya, pernyataan bahwa mushaf Alquran disusun secara tauqifi dan tafsir ada sebuah tafsir yang disusun dengan tartib nuzuli, Aksin menjelaskan jika tafsir dengan metode temaik (maudhu’i) dibenarkan maka tentu saja tafsir dengan semacam ini juga dapat dibenarkan. Izzat Darwazah sendiri membedakan, antara Alquran sebagai objek bacaan, yang sudah semestinya dibaca dengan sesuai dengan tartib ustmani dan sebagai objek tafsir, yang mengandung nilai dan seni untuk dikaji, sehingga tidak ada hubungannya antara bacaan dan tartib Alquran. Dari sini dapat disimpulkan bahwa karya yang ditulis Aksin ini menemukan bahkan mendorong untuk memicu adanya ide baru (logic of discovery) dalam pasar raya intelektual indonesia, bahwa membaca membaca sirah kenabian bisa dilakukan dengan cara mengikuti arus kronologi turunnya Alquran.

Adapun sturktur bahasan (method of organization), disusun dengan sangat sistematis dan logis. Buku ini terdiri dari enam bab. Bab pertama berisi pendahuluan dan kerangka teori. Bab dua, berisi mengenai biografi intelektuan Izzat Darwazah. Bab tiga, berisi tentang metode tafsir nuzuli Izzat Darwazah. Pada bab ini Ia terlebih dahulu menjelaskan metode tafsir nuzuli dari beberapa tokoh, baik dari  Muslim (insider) mapun non-Muslim (outsider). Hal ini ditujukan untuk memahami ideal tafsir Alquran dan menafsirkan sejarah kenabian Muhammad. Pada bab keempat, berisi inti pembahasan sejarah kenabian Muhammad pespeksif tafsir nuzuli. Kemudian pada bab terkahir, enam,berisi kesimpulan sekaligus saran untuk peneliti selanjutnya. Buku ini dilengkapi tabel susunan Alquran mushafi dan nuzuli, antara mushaf ustmani, Theodore Noldeke, Muhammad Abid al-Jabiri, Ibnu Qarnas, Khattat Qudur Ugly, dan Muhammad Izzat Darwazah. Hal ini sangat membantu untuk melihat perbandingan susunan Alquran nuzuli antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Buku ini juga dilengkapi glosairum dan indeks, yang bisa membantu pembaca untuk memahami istilah-istilah yang jarang digunakan dan tokoh yang belum dipahami. Menengei kualitas penulisan (quality of writing), buku ini kemas dengan format baik, terstruktur secara sistematis sebagaimana baiknya karya ilmiah. Dilengkapi juga dengan trasliterasi, pilihan kata (diksi) yang baik sehingga tidak mengulang-ulang, catatan kaki untuk mempermudah pembaca, serta daftar pustaka. Aksin juga mengatakan bahwa tema bahasan ini juga memberi ruang untuk dianalisis kembali (further research) karena buku ini hanya menyajikan sejarah objek kenabian dalam pandangan Izzat Darwazah, selebihnya kajian kritis terhadap sejarah kenabian Muhammad dipersilahkan kepada peneliti selanjutnya.

Oleh karena itu, Aksin banyak menginspirasi penulis untuk meneliti lebih lanjut tentang sejarah kenabian dalam tafsir-tafsir yang ditulis secara nuzuli. Buku ini amat penting untuk dikonsumsi oleh para pegiat sejarah dan atau tafsir Alquran. Penilaian umum (overall-judgement) dari buah karya Aksin Wijaya ini, ialah sebuah karya sejarah objektif yang mengantarkan kita terhadap diskusidiskusi menarik selanjutnya, hasil-hasil kreatif dari setiap analisisnya memberikan catatan penting mengenai sejarah Islam awal. Menurut saya, karya sejarah kenabian perspektif tartib nuzuli berbahasa Indonesia yang cukup panjang dan lengkap, sehingga informasinya akan memenuhi kebutuhan para peneliti, dosen, maupun mahasiswa.


Full Text: PDF

DOI: 10.32495/nun.v2i2.62

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.